Pada 1948 silam sebuah ide brilian dicetuskan editor media terkemuka Prancis, L'Equipe, Gabriel Hanot, pada federasi sepakbola Eropa (UEFA). Dia meminta UEFA untuk membuat sebuah turnamen yang diikuti oleh para klub jagoan seantero Eropa.
Tujuh tahun berselang, UEFA akhirnya melahirkan turnamen yang diberi nama Piala Champions. Seiring waktu berjalan turnamen itu mengalami perubahan sistem, format, hingga akhirnya dibranding ulang pada musim 1992/93 menjadi Liga Champions.
Meski perubahan terus terjadi, satu hal yang pasti adalah Liga Champions terus memuncak pamor dan prestisenya hingga jadi titik referensi kesuksesan sebuah klub di Benua Biru. Otomatis, setiap pesepakbola yang berkarier di Eropa menjadikan gelar dalam turnamen tersebut sebagai pelambang pencapaian tertinggi di level klub.
Pemain-pemain legendaris mulai dari Ferenc Puskas, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini, sampai duo alien sepakbola, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, menjadikan gelar Liga Champions sebagai penanda kebintangan dan kebesarannya.
Karenanya ketika kita mengetahui fakta bahwa legenda lain layaknya Diego Maradona, Ronaldo Nazario de Lima, sampai Francesco Totti tak pernah sekalipun mengecup "Si Kuping Besar", terdapat perasaan janggal yang hadir.
Perasaan yang tentu juga para legenda nir Liga Champions derita, sekalipun kebesarannya tidak terkikis. Namun ada satu legenda yang tak hanya merasa janggal tapi juga sakit hati soal bagaimana Liga Champions "memperlakukannya".
Ya, dialah Gianluigi Buffon. Sosok yang tak hanya dikenal sebagai kiper utama serta kapten Juventus, tapi juga salah satu penjaga gawang terbaik dalam sejarah sepakbola.
Sumber
